Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya (Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a)

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 30 April 2015

Sejarah Panglima Burung, Panglima Perang Dayak






Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat Agung, Sakti, Ksatria, dan Berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, dan sosok tersebut selalu bersinggungan dengan alam gaib. Kemudian sosok yang sangat didewakan tersebut oleh orang dayak dianggap sebagai Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Ada juga versi yang menceritakan bahwa Panglima Burung adalah gelar yang diberikan kepada seorang Panglima di tanah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kehidupan sehari-hari panglima ini seperti orang biasa (cuma tidak menikah) dan sosok panglimanya akan hadir jika terjadi kekacauan di tanah Dayak. Begitu juga dengan Panglima Naga. Panglima Naga adalah warga Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Panglima Naga sudah berpulang, namun beliau memiliki keponakan dan keluarga. Salah satu Keponakan Panglima Naga adalah anggota Dewan Kabupaten Sekadau 2004-2009. Jadi Panglima Burung, Panglima Naga adalah sosok yang benar-benar ada. Begitu versi yang di ceritakan.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya. Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak?. Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka.

Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah kehidupan para pendatang tak membuat mereka marah dan tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkungannya adalah orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu?. Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis.

Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika kesabarannya sudah habis.
 
Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual adat yang di Kalimantan Barat dinamakan Mangkuk Merah akan dilakukan untuk mengumpulkan para prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, Mengayau (memenggal kepala) dan membawa kepala yang di anggap musuhnya tersebut kemana-mana dan baru bisa berhenti apabila kepala adat yang dianggap perwakilan Panglima Burung menyadarkan mereka.

Inilah yang terjadi di kota Sampit, Kalimantan Tengah beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota. Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah agama manapun dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya.

Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi atau pilihan terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, begitu yang mereka yakini dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Dan inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut.

sumber: http://forum.viva.co.id/showthread.php?t=1922291

Rabu, 22 April 2015

Keamanan Adalah Yang Utama


Sebenarnya ini bisa dibilang lanjutan postingan sebelumnya tentang penerbangan kembali ku dari Jakarta ke Palangkaraya

Kadang aneh juga lihat "tingkah" para penumpang pesawat. Mereka bela-belain bawa barang (tas, koper, ransel, atau apalah) ke kabin. Kalo barangnya dengan ukuran dan berat yang termasuk diperbolehkan untuk bagasi kabin sih ga masalah, ini kadang ukuran tas/koper nya besar plus berat pula. Kalo ga dapat tempat, yang disewotin pramugarinya padahal menurutku itu tugas petugas darat untuk sortir bagasi kabin.

Ada lagi satu hal yang bikin takut, pas mau take off eh masih ada aja suara dering handphone. Nah harusnya dimatiin biar komunikasi antara pilot dan ATC ga terganggu yang bisa mengakibatkan ketidakamanan dalam penerbangan.

Mari kita sama-sama menghormati dan memperhatikan keselamatan orang lain karena dalam dunia penerbangan, keamanan adalah yang utama

Rabu, 15 April 2015

Terbang Ga Harus Pake Maskapai Favorit


Setelah menanti ketdkpastian selesai review refocusing utk penggunaan kembali efisiensi anggaran perjalanan dinas akhirnya selesai juga.

Deg-degan sempat ga sempat pake maskapai favorit ternyata ga sempat juga waktunya. Untungnya tiket msh blm issued. Akhirnya pindah maskapai. Dan smpai di soetta dengan waktu yg maasih sngat panjang. Semoga ga delay.

Sebenarnya ga ada masalah sih klo ganti maskapai cuma sayang aja kartu member ga ke pake hehe...

Senin, 13 April 2015

Pergi-Pulang-Pergi Lagi (PPPL)


  
Minggu ini merupakan minggu perjadin buat aku. Baru pulang dari Jakarta sabtu pagi karena ada Workshop SIMKESPEL besok sorenya berangkat lagi ke Jakarta dengan urusan berbeda namun tempatnya sama.

Yah begitu lah sekiranya aku ga bisa pulang ke rumah minggu ini. Disitu saya kadang merasa sedih!! ga bisa ketemu sama istri dan anak. Semoga apa yang aku kerjakan bisa berkah untuk anak dan istriku. Amiin 

Sabtu, 11 April 2015

Modem Bolt 4G


Sudah lama pgn beli modem portabel wifi. Sambil ngumpul-ngumpulin duit jg karena di Palangkaraya ada yg jual modem merk trtntu dgn bundling operator trntu dgn hrg yg mnurutku lmyn mahal (700rb).

Dan bbrapa hari yg lalu dpt rejeki utk perjadin ke Jakarta. Saat dluar jam kerja aku jln2 di salah satu atrium di jkt. Nah disitu ada yg lg promosi jual wifi portable bermerk Bolt yg bs akses jaringan 4G

Akhirnya setelah tanya2 harga dan spek, berpindah tanganlah itu modem. Dan memang koneksi 4G yg ditawarkan relatif cepat (maklum biasa pake koneksi paling cepat 3G)

Waktu itu dijanjiin dapat kuota 8GB (1GB regular + 7GB bonus). Lumayan kan? Pas udah dipake 1GB modemnya ngadat. Ga bisa dpke internetan. Bingung kan krn logikanya msh ada 7GB bonus dan belakangan ternyata aku tau bahwa bonus kuota hanya dpt dipakai pada pukul 01.00-08.00 (yaelah dsuruh begadang?). Ya sudah lah....

Skip....
Pulang ke Palangkaraya, tuh sinyal trnyata ga ngikut. Alhasil modem ga bisa dipake krn ga ada jaringan Bolt. Dengan sangat terpaksa akhirnya balik ke operator yg punya jaringan disini. Untungnya tuh moden bisa ganti pake kartu GSM lain. Semoga ga melanggar hukum dengan mengawinkan modem bolt sm operator lain

Kamis, 02 April 2015

Melihat Aktifitas Sebagian Alur Sungai Kapuas Murung dan Sungai Barito


Beberapa hari lalu saya dapat kesempatan untuk berkunjung ke salah satu wilayah kerja kantor yang lokasinya di sungai Barito. Dalam perjalanan dari Kuala Kapuas menggunakan Speed Boat melalui alur sungai Kapuas Murung tembus ke sungai Barito, ada banyak aktifitas yang bisa terekam kamera hape saya. Berikut beberapa fotonya

Kekayaan flora di alur sungai

Jembatan Pulau Petak Kuala Kapuas

Salahsatu perkampungan di pinggir sungai

Tumbuhan ini oleh penduduka lokal disebut Ilung

Mampir sebentar melepas "hajat" di salahsatu perkampungan

Pengangkut batu bara tanpa muatan

Loading batubara

Berkunjung ke salah satu stakeholder

Mentari pagi menyambut Desa Rangga Ilung

Numpang di dermaga syahbandar