Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya (Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a)

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 27 Agustus 2015

Panggil Saya Haji


Musim haji sudah tiba, para jemaah calon haji sudah banyak yang berangkat melalu embarkasinya masing-masing dan setelah pulang nanti mereka akan dipanggil Pak Haji atau Bu Haji.



HAJI, sebuah titel yang hanya bisa didapat dengan cara menunaikan ibadah haji ke tanah suci sekarang ini sudah cukup mudah untuk diraih. Alat transportasi yang semakin modern bisa mengantarkan jamaah calon haji menempuh perjalanan lebih dari 7.000 km hanya dengan waktu beberapa belas jam saja. Tabungan-tabungan haji pun sudah diprogramkan baik itu oleh bank konvensional ataupun bank syariah.

Nanti setelah kembali ke Indonesia, secara resmi para jamaah ini akan disebut HAJI atau menyandang titel "H"/"Hj" di depan namanya.

Kalo kita melihat para tokoh Islam di luar negeri -yang tentunya sudah menunaikan ibadah haji-, kita mungkin tidak akan pernah menemui nama mereka menggunakan H atau Hj. Nampaknya penggunaan H/Hj hanya terjadi di Indonesia.

Dari beberapa literatur yang aku baca, singkatnya ternyata ini adalah propaganda para penjajah Indonesia dulu. Hal itu terjadi karena setiap orang yang menunaikan haji, maka ia akan menjadi pemberontak bagi penjajah sehingga perlu memberi identitas bagi orang yang sudah "naik" haji. Karena itulah jaman penjajahan dulu kalo ada yang menunaikan haji akan disematkan H atau sebutan HAJI di namanya agar mudah mengawasi gerak-gerik orang tersebut yang disinyalir akan melakukan pemberontakan.

Ternyata setelah bertahun-tahun, penyematan H/Hj menjadi suatu budaya di Indonesia. Jika sudah menunaikan rukun Islam ke-5 ini maka akan disebut HAJI. Bukan untuk menandai orang yang mungkin bisa saja memberontak tetapi untuk menghormatinya.

Menurut beberapa literatur lagi, haji yang benar-benar haji atau istilah syar'i-nya adalah Haji Mabrur adalah tidak sekedar menunaikan ibadah haji. Namun juga mengalami perubahan ke arah yang lebih baik setelah menunaikan ibadah tersebut. Ibadah hariannya menjadi semakin baik, hubungan dengan manusianya pun semakin baik. Jadi haji bukan sekedar berkopiah putih atau menyandang huruf H/Hj di depan nama tapi lebih ke arah sifat dan sikap yang menjadi lebih baik meskipun dengan menambahkan titel tersebut juga bukan merupakan kesalahan

0 Komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar pada formulir isian berikut