Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya (Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a)

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 24 Agustus 2016

Salam Huh-Hah dari Eyang Cokot



Pedas merupakan sensasi rasa pada mulut yang disebabkan oleh zat yang bernama capsaicin. Bagi sebagian masyarakan Indonesia, makan tanpa ada sensasi pedas sama sekali dirasa mengurangi kenikmatan makanan dan tak sedikit yang menyukai sensasi pedas ini secara ekstrim.

Sambal Eyang Cokot. Produk bikinan temanku saat masih merantau dulu. Rasanya menggelegar dan pedasnya mantap. Mungkin terlalu lebay kalo aku yang jelasin pedasnya seperti apa karena secara pribadi aku bukanlah orang yang doyan pedas namun dari beberapa teman yang juga nyobain, rasanya cukup pedas dan bahkan aromanya Sambal Eyang Cokot ini sudah cukup untuk meneteskan keringat.

Entah kenapa dinamain Eyang Cokot. Dalam Bahasa Jawa, Eyang artinya Nenek/Kakek dan Cokot artinya Gigit. Mungkin si empunya yang bikin punya Kakek/Nenek yang suka gigit kali ya hehe..

Sambal Eyang Cokot tersedia dalam kemasan sebuah stoples kecil dengan berat 200 gram yang siap dikirim keseluruh Indonesia. Kemasan cukup rapat. Sambal di kemas dalam plastik dan dimasukkan  ke dalam stoples setelah itu dikemas lagi dengan plastik luar. Dalam pengirimannya si empu sambal kirim pake besek dan dikasih plastik lagi jadi relatif ga bocor baik itu isinya maupun aromanya

Bagi yang doyan pedas, aku rekomendasikan sambal yang kata pembuatnya tidak menggunakan pengawet sama sekali ini ya. Oh ya bagi yang mau order bisa kok. Langsung aja ke instagram eyangcokot_bynaomi. dan akan siap dikirim ke alamat anda. Salam Huh-Hah!!!

Sabtu, 13 Agustus 2016

Seorang Ayah dan Dua Anaknya


Dikisahkan seorang ayah dengan 2 anaknya. Si ayah menantang 2 anaknya untuk mencari dan mengambil sebuah ranting terindah di dalam hutan dengan syarat: 1. Jika sdh memutuskan untuk mengambil ranting maka tidak boleh mengambil ranting lainnya; 2. Harus tetap maju dan tak boleh kembali.
Anak pertama masuk hutan.  Dia menemukan ranting yang sangat indah tapi dia tidak mengambilnya dan terus berjalan. Tak berapa lama dia menemukan lagi ranting yang lebih indah dari yang pertama namun dia juga tidak mengambilnya dengan harapan ada lagi ranting yang lebih indah. Begitu terus hingga berkali-kali dan akhirnya dia keluar hutan tanpa membawa sebuah ranting pun dan menceritakan apa yang terjadi selama pencarian ranting indahnya.
Anak kedua masuk hutan. Tak berapa lama dia keluar hutan dengan membawa ranting yang biasa saja. Ayahnya pun bertanya, "kenapa engkau mengambil ranting yang biasa saja ini". Si anak kedua menjawab, "mungkin ini bukan ranting terindah tapi saat pertama melihatnya aku langsung suka makanya aku petik. Dalam perjalanan keluar hutan aku tetap memegang dan menyukai ranting ini meski banyak ranting yang lebih indah hingga akhirnya aku benar-benar mencintainya".

Selasa, 09 Agustus 2016

Percaya atau Mempercayakan


Gambar dari sini
Seorang pria menjadi pusat perhatian karena sedang melintasi Air Terjun Niagara hanya dengan bertumpu di seutas tali. Setelah sampai ke seberang, banyak wartawan yang meng-interview dia. Mulai dari motivasi melintasi air terjun terbesar ini hingga persiapan dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya pria tersebut melontarkan pertanyaan, "Apa kalian percaya kalo saya bisa melintasi air terjun ini sekali lagi?", "ya kami percaya", sahut mereka. "Kalau begitu siapa yang berani ikut dengan saya untuk melintasinya sekali lagi?". Penonton terdiam hingga akhirnya seorang anak kecil mengacungkan tangan.

Dengan penuh ketegangan penonton menyaksikan seorang pria melintasi lagi air terjun Niagara dengan menggendong seorang anak. Setelah selesai melintasi, perhatian bukan pada pria itu lagi tetapi pada anak yang tadi ikut melintasi.

"Bagaimana kamu bisa yakin untuk ikut pria itu melintasi air terjun ini?", tanya seorang wartawan. "Ya karena beliau adalah bapak saya", sahut si anak

***
Ada perbedaan antara PERCAYA dan MEMPERCAYAKAN. Di dalam dunia kerja bisa jadi kita dipercaya pimpinan untuk melakukan suatu pekerjaan namun pimpinan tidak mempercayakan pekerjaan tersebut kepada kita. Parahnya beberapa pimpinan hanya mempercayakan dan "memaksakan" suatu pekerjaan hanya pada satu-dua orang saja sehingga jika satu-dua orang tersebut sedang mengerjakan hal lain maka "pemaksaan" itu akhirnya akan berimbas pada kinerja karyawan yang ogah-ogahan dan "merasa menyesal" mendapat pemercayaan tersebut.

ps. Curhat